Achmad Subardjo: Sang Penjamin Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Achmad Subardjo: Sang Penjamin Proklamasi Kemerdekaan Indonesia – Ketika Sukarno-Hatta diculik oleh para pemuda pada tanggal 16 Agustus 1945, seseorang bernama Sudiro langsung melaporkannya kepada Mr Achmad Subardjo. Tuntutan para pemuda adalah agar dwitunggal itu langsung memproklamasikan kemerdekaan. Mereka tidak memberitahu tempat keduanya disembunyikan.

Achmad Subardjo: Sang Penjamin Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

achmad-subardjo-sang-penjamin-proklamasi-kemerdekaan-indonesia

Subardjo khawatir jikalau Sukarno-Hatta jatuh ke tangan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Jika itu terjadi, maka ia menghendaki kepada koneksi utamanya selama pendudukan Jepang, yaitu Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun). Oleh gara-gara itu, Laksamana Muda Tadashi Maeda pun diberitahu soal hilangnya ke dua tokoh mutlak tersebut.

Menurut Rudolf Mrazek di dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia (1994), Maeda beserta para stafnya miliki visi yang tidak sekolot Angkatan Darat Jepang di dalam politik pendudukan atas Pulau Jawa.

Sementara Subardjo adalah orang keyakinan Maeda dan dulu ditawari membentuk kantor penelitian di Jalan Prapatan Nomor 60. Ia mengaku dulu tinggal di Jepang. Dan di akhir masa pendudukan Jepang, ia dikenal sebagai pengelola Asrama Indonesia Merdeka yang miliki jalinan dengan para pemuda Indonesia terpelajar dan militan.

Selain Subardjo, tersedia terhitung Wikana yang berjejaring dengan Tan Malaka. Selain mereka—meski ogah-ogahan berurusan dengan orang-orang Jepang—Sutan Sjahrir pun dulu mengajar di asrama tersebut. Tempat itu sesuai bagi para pemuda Indonesia yang tidak suka dengan Angkatan Darat Jepang yang kaku.

“Mayor Boleh Tembak Mati Saya!”
Soebardjo kemudian mendapat kabar berasal dari seorang bagian PETA yang bernama Jusuf Kunto, bahwa Sukarno-Hatta diamankan oleh para pemuda berasal dari Angkatan Darat Jepang, dan dibawa ke luar Jakarta.

Sekitar pukul empat sore, Subardjo, Sudiro, Jusuf Kunto, dan seorang supir, langsung pergi ke luar kota melacak keberadaan Sukarno-Hatta. Mereka mengendarai mobil Skoda tua milik Subardjo yang bannya nyaris gundul.

Mereka belum jelas tentu di mana ke dua tokoh itu disembunyikan. Mulanya Subardjo menduga Sukarno-Hatta disembunyikan di Selabintana, Sukabumi. Namun, setelah lewat Jatinegara, mobil mereka malah melaju ke arah Purwakarta. Sepanjang perjalanan, mobil mereka tak mendapat adangan apa-pun selain ban sempat bocor dikala mendekati Rengasdengklok, karawang.

Ketika tiba di Rengasdengklok, mereka diarahkan untuk menanti di tempat tinggal wedana. Seorang pemuda revolusioner bernama Sukarni menghampiri mereka. Subardjo kemudian dibawa untuk menemui komandan kompi bernama Mayor Subeno di tangsi PETA yang tidak jauh berasal dari tempat tinggal tersebut.

“Kami datang ke sini untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta dan juga membawa mereka kembali ke Jakarta untuk mempercepat Proklamasi Kemerdekaan,” kata Subardjo layaknya ia tulis di dalam autobiografinya bertajuk Kesadaran Nasional (1978:320).

Perwira didikan Jepang itu menanyakan kepada Subardjo, apakah ia bisa mendesak Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan sebelum akan tengah malam. Subardjo menjawab bahwa perihal itu tidak mungkin, dan Sukarno-Hatta terhitung harus kembali dulu untuk rapat kilat dengan panitia persiapan lainnya di Jakarta.

“Bagaimana jikalau pukul 06.00 pagi besok,” bertanya Subeno.

“Saya bakal berusaha sedapat-dapatnya, kami bisa saja [baru] bisa selesai [rapat] pukul 06.00, tetapi menjelang tengah hari besok kami tentu udah siap [untuk memproklamasikan].”

“Jika tidak bagaimana?” bertanya Subeno.

“Mayor, jikalau segala sesuatunya gagal, sayalah yang memikul tanggungjawabnya, dan Mayor boleh tembak mati saya,” jawab Subardjo.

Subeno menjadi suka atas jawaban tersebut. Maka ia pun mengizinkan Subardjo untuk menemui Sukarno-Hatta yang ternyata ditempatkan di sebuah tempat tinggal milik seorang Tionghoa, tidak jauh berasal dari tangsi PETA.

Subardjo dan rombongannya langsung membawa Sukarno-Hatta ke Jakarta dan langsung rapat di tempat tinggal Laksamana Maeda. Esoknya, tanggal 17 Agustus 1945, menjelang siang, Proklamasi Kemerdekaan dibacakan.Baca Selengkapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *