Ini Sejarah Panjang Gedung Pancasila Yang Kini Jadi Markas Besar Kemlu RI

ini-sejarah-panjang-gedung-pancasila-yang-kini-jadi-markas-besar-kemlu-ri

Ini Sejarah Panjang Gedung Pancasila Yang Kini Jadi Markas Besar Kemlu RI – Gedung Pancasila sementara ini dimanfaatkan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan internasional seperti resepsi untuk menghormati kunjungan petinggi-petinggi asing ke Indonesia.

Ini Sejarah Panjang Gedung Pancasila Yang Kini Jadi Markas Besar Kemlu RI

ini-sejarah-panjang-gedung-pancasila-yang-kini-jadi-markas-besar-kemlu-ri

semplice-dieta – Bukan cuma itu, Gedung Pancasila termasuk jadi lokasi penandatanganan perjanjian bersama negara lain dan organisasi internasional, pertemuan bilateral dan resepsi diplomatik dalam rangka menyambut kunjungan para menteri luar negeri negara teman akrab serta jamuan makan formal dan tidak resmi.

Menteri Luar Negeri menyambut lebih dari satu besar tamu-tamu beliau di gedung bersejarah ini,

Tenyata, Gedung Pancasila menyimpan peristiwa panjang. Awal mula pembangunan gedung ini bukan dimaksudkan untuk kesibukan diplomasi Indonesia.

Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda berkuasa di Indonesia, sejumlah bangunan gedung pemerintahan didirikan di kira-kira kawasan yang kini disebut sebagai Taman Pejambon dan Lapangan Banteng di Jakarta.

Gedung-gedung tersebut ialah Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad) di Jalan Pejambon 6, Dewan Hindia Belanda di Pejambon 2 (Raad van Indie, sekarang jadi anggota dari gedung Departemen Luar Negeri), Gereja Katolik Roma di sisi timur Lapangan Banteng, dan Gedung Keuangan. Susunan letak dari keempat gedung tersebut seolah-olah berada dalam sebuah lingkaran yang besar.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Bandar Judi Bola

Di sisi timur terletak gedung Pengadilan Tinggi, Benteng Pangeran Frederick (bekas benteng bawah tanah pasukan Belanda), Gereja Immanuel dan Stasiun Kereta Api Gambir yang terletak berhadapan di Jalan Merdeka Timur. Bangunan Benteng Pangeran Frederick udah dipugar dan di bekas lahannya tersebut sementara ini udah didirikan Masjid Istiqlal yang megah.

Gedung Volksraad sementara ini dikenal sebagai Gedung Pancasila dan sekarang jadi anggota dari kompleks bangunan Gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Tidak ada catatan formal mengenai kapan tepatnya Gedung Pancasila tersebut mulai dibangun. Beberapa literatur memperlihatkan bahwa pembangunannya ditunaikan kira-kira pada th. 1830.

Gedung tersebut awalannya dibangun sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang termasuk merangkap sebagai Letnan Gubernur Jenderal.

Gedung bekas kediaman Panglima yang oleh Belanda barangkali dipandang memadai memadai untuk tempat persidangan Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad) kemudian diresmikan sebagai Gedung Volksraad pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum.

Dalam katalog Pameran Peringatan Hari Ulang Tahun ke-300 Kota Batavia yang diadakan di musium di Amsterdam pada bulan Juni dan Juli 1919, terdapat catatan bahwa Volksraad pernah digunakan termasuk sebagai tempat pertemuan para anggota Dewan Pemerintahan Hindia Belanda (Raad van Indie).

Kemudian pemerintah membangun gedung tersendiri untuk Raad van Indie yakni gedung yang ada di sebelah barat gedung Volksraad, Jalan Pejambon No. 2.

Jadi Lokasi Penting dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Pada th. 1943, Pemerintah Militer Jepang di Indonesia membentuk badan Tyuuoo Sangi-In yakni Badan Pertimbangan Pusat di Jakarta.

Badan tersebut bertugas mengajukan usulan kepada pemerintah dan menjawab pertanyaan pemerintah mengenai soal-soal politik dan memberikan pertimbangan mengenai tindakan apa yang dapat ditunaikan oleh Pemerintah Militer Jepang.

Sidang Tyuuoo Sangi-In yang pertama dan sidang-sidang selanjutnya berlangsung di bekas Gedung Volksraad, Jalan Pejambon No. 6, Jakarta.

Tujuan politik pembentukan BPUPK tersebut ialah supaya rakyat Indonesia senantiasa memberikan pemberian kepada Jepang, sekalipun kedudukan militer Jepang di front Pasifik udah goyah.

Tugas badan ini ialah untuk mempelajari soal-soal yang terkait bersama segi-segi politik, ekonomi, dan tata-pemerintahan yang diperlukan dalam bisnis pembentukan Indonesia yang merdeka “di kelak kemudian hari”.

Proklamsi Indonesia

Pada 15 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta, tiap-tiap selaku Ketua dan Wakil Ketua PPKI mengadakan rapat pada tanggal 16 Agustus 1945 di Pejambon No. 6.

Pada malam tanggal 15 Agustus 1945, kelompok pemuda mendesak Bung Karno untuk langsung memproklamirkan kemerdekaan Indonesia secepat mungkin.

Karena tidak tercapai kesepakatan pada permohonan para pemuda tersebut, maka pada pagi buta tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta ‘diamankan’ oleh para pemuda ke Rengasdengklok.

Pagi hari tanggal 16 Agustus 1945, para anggota PPKI berangkat dari penginapan mereka di Hotel Des Indes, Jl. Gajahmada menuju gedung Pejambon No. 6 untuk memenuhi undangan Ketua dan Wakil Ketua PPKI.

Namun rapat tersebut tidak jadi berlangsung gara-gara Ketua dan Wakil Ketua PPKI masih belum lagi ke Jakarta.

Dalam buku “Bung Hatta Menjawab”, Mohammad Hatta memperkirakan bahwa andaikan rapat tersebut jadi dilaksanakan, Proklamasi Kemerdekaan RI barangkali dapat ditunaikan pada tanggal 16 Agustus 1945 di Pejambon No. 6.

Perkiraan ini didasarkan bahwa pada malam tanggal 15 Agustus 1945, kelompok pemuda udah melakukan desakan yang kuat supaya kemerdekaan Indonesia langsung diproklamirkan.

Bahkan pada malam itu, Mohammad Hatta udah buat persiapan bahan rapat, pada lain mengetik Pembukaan Undang-Undang Dasar yang hingga sementara itu direncanakan sebagai naskah proklamasi.

Tetapi peristiwa menentukan lain. Proklamasi Kemerdekaan berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56 di mana sehari pada mulanya pada tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta baru saja tiba lagi ke Jakarta dari Rengasdengklok.

Terjadilah kesibukan-kesibukan luar biasa di luar pengetahuan Pemerintahan Militer Jepang.

Masalah-masalah penting yang harus diputuskan ialah apakah proklamasi dapat ditunaikan atas nama PPKI atau tidak dan bagaimana isi proklamasi yang dapat berkumandang ke seluruh dunia itu.

Sesudah perhitungkan permohonan kelompok-kelompok pemuda yang sejak semula bergerak aktif untuk menyambut datangnya kemerdekaan, maka Bung Karno dan Bung Hatta melakukan tindakan atas nama seluruh bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Pada awal th. 1950, gedung yang jadi saksi beraneka moment bersejarah yakni bekas gedung Volksraad dan Tyuuoo Sangi-In dan yang kita kenal sebagai Gedung Pancasila tersebut diserahkan kepada Departemen Luar Negeri.

Nama Gedung Pancasila mulai makin dikenal saat pada tanggal 1 Juni 1964 di Departemen Luar Negeri diperingati secara nasional hari lahirnya Pancasila yang dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *