Narasi Sejarah, Nasionalisme, dan Pembentukan Identitas Kolektif di Indonesia

Narasi Sejarah, Nasionalisme, dan Pembentukan Identitas Kolektif di Indonesia – Sebagai sebuah negara, Indonesia terbentuk berasal dari kesepakatan beberapa lokasi yang dulu dijajah oleh pemerintahan kolonial Belanda. Pasca berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia akibat kekalahannya di dalam Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta di Jakarta, tanggal 17 Agustus 1945.

Narasi Sejarah, Nasionalisme, dan Pembentukan Identitas Kolektif di Indonesia

Narasi Sejarah, Nasionalisme, dan Pembentukan Identitas Kolektif di Indonesia

Perundingan demi perundingan kemudian dikerjakan oleh delegasi-delegasi berasal dari beraneka lokasi di kepulauan Indonesia. Hasilnya adalah Pancasila. Wilayah Indonesia kemudian menjadi sebuah negara berbentuk republik, bersama basic negaranya yaitu Pancasila.

Pancasila merupakan basic negara yang bermanfaat menanggung terlindunginya hak-hak asasi, dan sekaligus memutuskan kewajiban, bagi semua rakyat Indonesia. Tiap-tiap butir silanya dibentuk oleh keperluan untuk menjembatani dan mengakomodasi beraneka keperluan kelompok-kelompok penduduk di Republik Indonesia.

Pada satu sisi, kalau Pancasila benar-benar diterapkan sebagai basic penyelenggaraan Negara Republik Indonesia, maka potensi terjadinya konflik antar grup penduduk yang tidak serupa agama, etnis, ataupun ideologi dapat diminimalisir.

Pada segi yang lain, pertemuan beraneka keperluan grup yang ada dapat saja justru meruncing kalau Pancasila gagal diaktualisasikan dan diartikulasikan terus-menerus.

Narasi Sejarah, Nasionalisme, dan Pembentukan Identitas Kolektif di Indonesia

Melalui pembacaan lagi narasi sejarah lahirnya negara Republik Indonesia, lebih-lebih perihal perumusan Pancasila, maka ada beberapa perihal yang dapat dipahami.

Pertama, di dalam narasi sejarah lahirnya negara Republik Indonesia tercatat secara faktual bahwa penduduk Republik Indonesia terlampau beragam, baik secara praktik keagamaannya, praktik adatnya atau ideologi yang dianut.

Kedua, sistem perumusan dan penetapan Pancasila sebagai basic negara dapat dimaknai sebagai bentuk nyata kesepakatan berasal dari tiap-tiap grup penduduk Republik Indonesia untuk saling melindungi dan mengakomodasi kepentingannya masing-masing.

Ketiga, kesepakatan penduduk di beraneka lokasi kepulauan Indonesia untuk membangun negara dan ditetapkannya Pancasila sebagai basic negaranya perlihatkan bahwa cii-ciri mutikultural adalah bagian berasal dari identitas kolektif penduduk Republik Indonesia.

Jika multikultur adalah identitas kolektif penduduk di Republik Indonesia, maka kesadaran penduduk atas identitas kolektif tersebut wajib tetap dibentuk. Pembentukannya berdasarkan pemahaman bahwa multikulturalisme adalah identitas yang niscaya, yang melekat di dalam kehidupan sehari-hari penduduk Republik Indonesia. Sehingga sikap negosiatif dan toleransi menjadi motivasi berasal dari usaha pembentukan identitas kolektif tersebut.

Paparan diatas kemudian membangkitkan pemahaman bahwa pembelajaran sejarah memiliki kontribusi pada usaha pembentukan identitas nasional di dalam sebuah negara-bangsa. Pemahamaan ini logis gara-gara sejarah berasal berasal dari keliru satu kata di dalam bhs Arab, syajarah, yang dapat disimpulkan pohon silsilah atau asal-usul. Sehingga, bersama mempelajari sejarah sebuah negara-bangsa (sejarah masyarakatnya, politiknya, dan segi sosial lainnya), identitas kolektif berasal dari negara-bangsa tersebut (asal-usulnya) dapat dipahami dan dihayati.

Sebagai contoh, andaikan bersama mempelajari sejarah Pancasila, layaknya yang sudah diungkapkan di awal, dapat dipahami bahwa Republik Indonesia lahir berasal dari hasil konsensus begitu banyak ragam delegasi perwakilan wilayahnya. Sehingga perihal ini membentuk identitas kolektif penduduk Indonesia sebagai penduduk yang multikultural. Identitas ini kemudian wajib dibentuk kesadarannya terus menerus supaya konflik horizontal dapat dihindari.

Pentingnya pembelajaran sejarah bagi usaha pembentukan identitas kolektif kemudian mendorong institusi pendidikan, baik negeri ataupun swasta untuk menyertakan mata pelajaran sejarah di dalam penyelenggaraan aktivitas belajar-mengajar. Tujuannya supaya “siswa dapat menyita nilai-nilai setiap moment sejarah yang berlangsung untuk memperkuat rasa cinta tanah air, bangga dan meningkatkan nasionalisme”.

Berdasarkan pandangan awal yang demikian, maka terdapat beberapa pertanyaan mendasar yang muncul, yaitu; (1)Bagaimana hubungan antar grup penduduk yang tidak serupa budaya di Indonesia dapat bersatu di dalam sebuah negara-bangsa yang bernama Indonesia? (2)Apa kontribusi narasi sejarah negara-bangsa Indonesia bagi keberlangsungan hubungan antar grup penduduk yang tidak serupa budaya tersebut?

Mendekati Wacana Nasionalisme

Dalam buku Imagined Communities, Benedict (Ben) Anderson mengusahakan untuk menyatakan perihal asal-usul dan perkembangan Nasionalisme. Ben Anderson mengartikan Nasion/Nation sebagai sebuah komunitas politis yang terbayangkan. Mengapa terbayangkan?

Menurut Ben Anderson, bahkan di dalam sebuah negara yang paling kecil saja, semua penduduknya tidak kemungkinan saling mengenal, sudah dulu saling bersua seluruhnya, atau pun mendengar perihal satu mirip lain.

Hal ini perlihatkan bahwa kebersamaan, perasaan saling terjalin dan elemen-elemen Nasionalisme lainnya memang hanya berada di dalam bayangan para anggotanya saja. Pengikat kebersamaannya dapat bermacam-macam. Mulai berasal dari sejarah, bahasa, letak geografis, posisi geopolitis dan hal-hal konkret lainnya.

Berdasarkan paparan atas buku Imagined Communities tersebut, maka dapat dipahami dua hal. Pertama, Nasionalisme adalah imaji perihal keterhubungan tiap-tiap bagian suatu negara bangsa yang melampaui perbedaan-perbedaan yang ada. Kedua, Imaji atas keterhubungan tersebut direproduksi terus-menerus, keliru satunya lewat narasi Sejarah.

Dalam buku berbeda, berjudul Hantu Komparasi : Nasionalisme, Asia Tenggara dan Dunia, Ben Anderson menuliskan perihal Nasionalisme dan bagaimana Nasionalisme tersebut didekati atau dilihat lewat beraneka perspektif, baik di Eropa atupun di Asia.

Pada bagian Nasionalisme, Identitas, dan Logika Serialitas, Ben Anderson dambakan lagi menyatakan perihal perkembangan kapitalisme cetak yang berpengaruh pada nasionalisme, layaknya yang ditulisnya di dalam buku Imagined Communities.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *