Sepanjang sejarah, angkatan muda selalu memiliki kesadaran akan Indonesia yang lebih baik

Sepanjang sejarah, angkatan muda selalu memiliki kesadaran akan Indonesia yang lebih baik – Gerakan kaum muda Indonesia jaman kini adalah penerus para pendahulu mereka. Dalam perjalanan peristiwa bangsa, kaum muda selalu memainkan peran penting dan revolusioner.

Sepanjang sejarah, angkatan muda selalu memiliki kesadaran akan Indonesia yang lebih baik

sepanjang-sejarah-angkatan-muda-selalu-memiliki-kesadaran-akan-indonesia-yang-lebih-baik

Dalam sejarah, gerakan kaum muda yang berjuang melawan generasi tua yang mapan tercatat dalam momen-momen genting dan penting.

Maka muncullah penamaan layaknya angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, dan – tentu saja – 1998.

Tahun lalu, gelombang unjuk rasa anak muda di beragam wilayah pada serangkaian rencana undang-undang kontroversial, dipandang sebagai “protes mahasiswa terbesar sejak 1998”.

“Unjuk rasa itu menunjukkan bahwa anak muda tetap miliki pandangan politik kronis dan keyakinan atas keberdayaan politik mereka, biarpun dalam dua dekade paling akhir mereka kerap dituduh apatis,” menurut Yatun Sastramidjaja, asisten profesor antropologi di University of Amsterdam, Belanda.

Menurut dia, aktivis muda selagi ini – yang bergerak selagi negara ini raih usia 75 tahun – mewakili sebuah momen perintis dalam peristiwa Indonesia.

“Alasannya simpel saja. Perjuangan para pendahulu mereka demi kebebasan dari penindasan, keadilan dan kebenaran tetap penting dan justru makin mendesak hari-hari ini,” kata Yatun.

Kesadaran angkatan

Yatun menyatakan tidak benar satu segi pendorong gerakan kaum muda yang selalu ada dari jaman ke jaman adalah kesadaran dalam angkatan.

“Mereka adalah bentuk dari ide bahwa jaman baru yang progresif, Indonesia yang lebih baik, bisa dicapai; dan mereka miliki tanggung jawab untuk memimpin dalam perjuangan yang tengah berlangsung untuk jaman depan yang lebih baik,” katanya.

Kesadaran angkatan muda terbukti jadi kekuatan pendorong perubahan nyata dalam peristiwa Indonesia.

Gerakan pemuda dan pelajar di selama peristiwa Indonesia telah menyumbangkan visi yang mengetahui tentang perubahan progresif dan bagaimana perubahan ini bisa dicapai.

“Dan mereka melakukannya dengan cara-cara yang imajinatif yang sesuai dengan keperluan setiap zaman,” katanya.

Takdir dengan “kaum muda” pra-kemerdekaan

Menurut Yatun, kondisi-kondisi politik dan peluang-peluang yang ada membentuk beragam peran pemuda, khususnya pemuda berpendidikan di setiap era.

Menurut studi Yatun tahun 2016 tentang gerakan pelajar Indonesia, pada akhir jaman penjajahan Belanda, pemuda pribumi berpendidikan adalah grup yang relatif kecil tetapi miliki privilese tinggi.

Mereka memandang diri mereka sebagai agen dalam jaman baru yang menyingsing dan menyebut diri mereka “kaum muda”.

Mereka terasa lebih tercerahkan dibanding generasi orang tua mereka yang feodal dan terpecah-pecah secara etnis. Mereka serasi dengan pertumbuhan progresif di panggung dunia – terhitung kebangkitan nasionalisme.

Mereka terhitung orang-orang pertama yang mengembangkan rasa miliki takdir dengan dan keberdayaan dengan sebagai sebuah generasi.

Ini terwujud pada 1908, disaat pelajar Indonesia di Jakarta (saat itu Batavia) mendirikan Boedi Oetomo, organisasi nasionalis pertama di Indonesia.

Mereka kemudian menyelenggarakan dua Kongres Pemuda pada 1926 dan 1928. Kongres tahun 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda untuk kesetiaan pada “satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa”.

Pada 1928, kaum muda menggerakkan peran sebagai “agen sejarah”: nasib bangsa mengenai erat dengan tindakan pemuda.

Dalam jaman perjuangan kemerdekaan, generasi baru pemuda nasionalis mengambil sikap yang lebih radikal.

Pada 16 Agustus 1945, sejumlah pemuda menculik Soekarno dan Mohammad Hatta untuk memaksa kedua pemimpin untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

Mereka menyatakan diri mereka dengan arti yang lebih inklusif dan populis yaitu “pemuda” dan tekankan perlunya melibatkan rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.

Dalam revolusi nasional yang berlangsung kemudian, mereka membentuk beragam grup perjuangan untuk memimpin perjuangan rakyat demi kemerdekaan.

Tetapi pemuda secara bertahap kehilangan peran utama dalam revolusi (yang disita alih tentara) dan kemudian ganti ke arena politik nasional.

Pemuda yang berpendidikan didefinisikan kembali dalam arti yang eksklusif “mahasiswa”. Peran ini dilembagakan dalam bentuk organisasi mahasiswa nasional yang miliki afiliasi dekat dengan partai politik.
Menuju periode represi

Ketika gelombang berbalik melawan Soekarno sehabis kudeta yang gagal pada 1965 – yang oleh tentara pimpinan Jenderal Soeharto dikambinghitamkan pada Partai Komunis Indonesia, sekutu Soekarno – organisasi mahasiswa bermobilisasi untuk melawan Soekarno.

Mahasiswa bergabung di Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan selama berbulan-bulan menggelar demonstrasi massal menentang Partai Komunis dan kabinet Soekarno pada 1966.

Gerakan mahasiswa memainkan peran kunci dalam transisi ke Orde Baru yang dipimpin Soeharto.

Pada tahun 1970-an, ide mahasiswa sebagai kekuatan ethical – yang didorong oleh kewajiban peristiwa dan intelektual untuk membela mereka yang tertindas – jadi tema yang berulang dalam gerakan mahasiswa.

Dalam periode ini protes pada pemerintah otoriter Soeharto mendapat respons yang brutal dan represif.

Pada 1974, mahasiswa disalahkan dalam demonstrasi yang berujung pada kerusuhan. Pada 1978, militer menyerang dan menduduki kampus-kampus yang dianggap sebagai pusat pergerakan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa tahun 1970-an jadi perintis dalam kritik-kritik fundamental pada otoritarianisme dan kapitalisme kroni oleh negara yang konsisten bergema di kalangan aktivis mahasiswa sampai hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *